Label

Sabtu, 06 April 2013

makalah geografi kelas 11 ips


Makalah
Faktor penyebab pelajar sambil bekerja


D
I
S
U
S
U
N

O
L
E
H

·       Fena basafiana
·       Asmida lubis
·       Dahlia


MAN CIPONDOH
2013




Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam mempelajari isi makalah ini.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya bias lebih baik lagi.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Tangerang, 16 januari 20013



Penyusun

BAB I     
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
             Keputusan untuk kerja sambil kuliah atau sekolah sebenarnya memiliki resiko, tapi tingkat resiko tersebut pasti berbeda-beda berdasarkan pekerjaan yang  digeluti. Setidaknya, terkadang merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara kuliah dan kerja, apalagi jika pekerjaan tersebut bersifat terikat, akan sering dihadapkan oleh kendala-kendala. Salah satunya seperti jadwal kerja bentrok dengan jadwal kuliah. Atau kelelahan, karena stamina telah terkuras ketika bekerja. Tapi, jika bekerja tanpa keterikatan (freelance) atau dengan sistim shift, setidaknya bisa meminimalkan resiko tersebut dengan cara mengatur antara jadwal kerja dengan jadwal kuliah.
Resiko lain yang biasanya terjadi ketika sekolah/kuliah sambil bekerja adalah dapat menyebabkan malas sekolah/kuliah. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bersikap seperti ini, tapi melihat fenomena-nya, rata-rata memang seperti itu kenyataannya. Ilustrasinya, ketika sudah bisa menghasilkan uang, maka akan asyik dengan pekerjaannya tersebut (karena sudah memiliki penghasilan), kemudian akan menyebabkan kurang fokus terhadap sekolah/kuliahnya.

B. Rumusan masalah

1.      pengertian pelajar dan bekerja
2.      hasil wawancara
3.      factor penyebab pelajar sambil bekerja

C. Tujuan

1.      Untuk memenuhi tugas makalah mata pelajaran geografi
2.      untuk memenuhi hasil wawancara
3.      Untuk mengetahui arti dari pelajar dan bekerja
4.      Untuk memahami faktor penyebab pelajar sambil bekerja


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

1.      Pengertian pelajar

Sebutan “Pelajar” diberikan kepada peserta didik yang sedang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik dalam arti luas. Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah (Sinolungan, 1997).
Peserta didik dalam arti sempit inilah yang disebut sebagai pelajar. Dikatakan pelajar sebab mereka mengikuti pembelajaran dalam konteks pendidikan formal, yakni pendidikan di sekolah. Melalui pendidikan formal inilah pelajar diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Sosial, Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan masih banyak lagi. Diharapkan, selama mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa mampu mengembangkan dirinya baik secara social, emosi, intelektual, bahasa, moral dan kepribadian ke arah positif yang diinginkan semua orang. Perkembangan yang dialami pelajar berbeda-beda. Tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar. Tidak selamanya perkembangan pada diri pelajar menuju pada hal positif. Adakalanya beberapa pelajar justru menunjukkan perkembangan ke arah negatif, salah satunya aksi premanisme yang marak dilakukan oleh pelajar di berbagai daerah saat ini.
Sangat disayangkan, sebab hakikat seorang pelajar adalah belajar dan menuntut ilmu.

2.      Pengertian bekerja

            Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.
Pekerjaan yang dijalani seseorang dalam kurun waktu yang lama disebut sebagai karier. Seseorang mungkin bekerja pada beberapa perusahaan selama kariernya tapi tetap dengan pekerjaan yang sama.



B. Hasil wawancara

            Setelah melakukan wawancara dan survei, kami mendapatkan informasi mengenai sikap mereka dalam belajar dan mengetahui jalan dan bentuk pekerjaannya. Kami mewawancarai 3 pelajar dan 2 mahasiswa yang juga sambil bekerja.

Bagi pelajar,
1.      Nama              : AY
Umur              : 16 tahun
Asal sekolah             : MAN cipondoh
Kelas              : 11
Jam sekolah  : 06:45 s/d 14:15
Pekerjaan       : Pelayan cafĂ© roti bakar 88 (sejak kelas 10 SMA)
Gaji                 : Rp. 1.600.000/bln
Jam bekerja   : 15:30 s/d 22:30

2.      Nama              : MR
Umur              : 16 tahun
Asal sekolah             : MAN cipondoh
Kelas              : 11
Jam sekolah  : 06:45 s/d 14:15
Pekerjaan       : Penjaga toko pakaian anak-anak (sejak kelas 10 SMA)
Gaji                 : Rp. 750.000/bln
Jam bekerja   : 15:00 s/d 01:00

3.      Nama              : NH
Umur              : 16 tahun
Asal sekolah             : SMAN 10 tangerang
Kelas              : 11
Jam sekolah  :  12:20 s/d 17:20
Pekerjaan       : Penjahit baju (sejak kelas 8 SMP)
Gaji                 : Rp. 400.000/bln
Jam bekerja   : 19:00 s/d 22:00

Mereka merasa tidak ada gangguan kesehatan yang berlebihan.  Seperti pegal-pegal dan mengantuk. Tidak ada perubahan sebelum bekerja hingga sudah bekerja. Ada yang mengatakan, pertama-tama ia bekerja merasa berat, mengantuk, tapi setelah beberapa hari kemudian sudah terbiasa dan tidak merasa kantuk lagi. Namun ada satu pelajar yang merasa lemas dan sering pusing hingga saat ini, dikarenakan terlalu banyak aktivitas dan kurangnya istirahat.
Mereka masih bisa bermain dengan teman-temannya di tempat mereka bekerja, karena ada sebagian teman-temannya yang juga ikut bekerja disana.  Mereka memilih sekolah sambil bekerja dengan niat sendiri, tanpa ada paksaan dari orang lain. Tanggapan dari orang tua mereka adalah menyetujui anaknya untuk bersekolah sambil bekerja.
Di sekolah mereka merasa terhambat dalam proses kegiatan belajar, karena sering mengantuk. Jika diberikan pekerjaan rumah (pr) oleh gurunya, mereka tidak mengerjakan di rumah Tapi menyontek saat di sekolah. Mereka pun sering absent di sekolah. Dan lebih mengutamakan pekerjaannya ketimbang urusan sekolah.

Tujuan mereka memilih sekolah sambil bekerja hampir sama yaitu:
·        Ingin membantu meringankan kondisi ekonomi keluarganya
·        Ingin mandiri
·        Ingin tahu bagaimana susahnya bekerja
·        Untuk uang saku
·        Untuk meringankan biaya sekolah
·        Dan untuk kredit motor

Bagi mahasiswa,
1.   Nama              : AJ
Umur              : 22 tahun
Asal kuliah    : STIP Yupentek, jurusan ilmu pemerintahan
Semester        : 7
Jam kuliah     : Senin s/d jum’at, jam 19:00 s/d 21:30
Pekerjaan       : Anggota dinas pemadam kebakaran tangerang
Gaji                 : Rp. 1.927.000/bln
Jam bekerja   : 1x24 jam (lalu 2 hari libur)

2.   Nama              : SS
Umur              : 19 tahun
Asal kuliah    : Universitas muhamadiyah tangerang, jurusan pai
Semester        : 2
Jam kuliah     : jum’at, sabtu & minggu, jam
Pekerjaan       : guru bimba di YPAI
Gaji                 : Rp700.000/bln
Jam bekerja   : senin s/d jum’at, jam 08:00 s/d 16:00

Mereka merasa tidak ada gangguan kesehatan yang berlebihan. Mereka juga masih bisa bermain dengan teman-temannya di tempat mereka bekerja, karena ada sebagian teman-temannya yang juga ikut bekerja di sana. Tanggapan dari orang tua mereka adalah sangat menyetujui anaknya untuk kuliah sambil bekerja. Alasannya adalah memang mereka bekerja di tempat yang sangat dekat dengan dunia karir orang tuanya. Seperti AJ yang bekerja di pos dinas pemadam kebakaran, ayahnya juga bekerja sebagai PNS di dinas pemadam kebakaran. Dan SS yang bekerja sebagai guru di bimba, profesi orang tuanya juga sebagai guru.
Dalam urusan kuliahnya mereka tidak merasa terhambat dalam proses belajar. Bahkan mereka memilih kuliah sambil bekerja adalah suatu keputusan yang benar karena jurusan kuliah dan jenis pekerjaan yang mereka jalani sangat bergandengan sehingga bisa mencari pengalaman agar nanti terjun di dunia kerja  penuh tidak merasa kebingungan atau gugup.

Tujuan mereka memilih untuk kuliah sambil bekerja adalah:
·        Meningkatkan kedisiplinan kerja
·        Menuntut ilmu
·        untuk Biaya kuliah
·        untuk uang saku
·        membantu perekonomian orang tua

pendapat dan saran dari guru MAN cipondoh:        
      pertanyaan: bagaimana pendapat bapak tentang tidak sedikit pelajar yang juga sambil bekerja?
Bpk. Rojali SH
      Tergantung jenis pekerjaannya. Kalau pekerjaannya di bawah pimpinan bos, sebaiknya ditinggalkan. Kalau pekerjaannya tidak diawasi oleh pihak orang lain, tidak apa-apa. Sebenarnya sekolah sambil bekerja bisa menjadikan anak lebih disiplin menghargai waktu. Apalagi membiayai sekolah dengan hasil keringat sendiri akan membuat anak tersebut semakin giat belajar karena merasakan sulitnya membiayai sekolah. Jika sekolah hanya dianggap main-main, maka keringat yang telah dikerluarkannya untuk membiayai sekolah akan menjadi sia-sia.

C. Upaya Pencegahan Pekerja Anak

·        Mengefektifkan Peraturan Perundang-undangan
Hukum pada dasarnya tidak hanya berisi larangan, perintah, dan
membebankan kewajiban-kewajiban tertentu, tetapi juga memuat perkecualianperkecualian  tertentu. Pengaturan hak dan kewajiban  dalam peraturan perundang-undangan, khususnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang  Ketenagakerjaan,  akan menempatkan posisi  pekerja dan pengusaha, kewajiban-kewajiban apa yang harus diberikan, serta hak-hak apa yang dapat dituntut oleh salah satu pihak terhadap pihak yang lainya.   Dalam hubunganya dengan pekerja anak, peraturan perundang-undangan  ketenagakerjaan memberikan perkecualian terhadap anak yang bekerja, khususnya laranganlarangan tertentu bagi pekerja anak, yang bekerja atau terpaksa bekerja,
khususnya di sektor informal. Pekerja anak yang bekerja di sektor informal  dilarang untuk bekerja dengan berbagai alasan apapun. Dalam rangka mencegah anak bekerja atau pekerja anak, maka dianggap perlu untuk mengefektifkan berlakunya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,  serta peraturan perundang-undangan lain yang pada dasarnya melarang anak untuk bekerja, atau mempekerjakan anak, baik di sektor formal maupun sektor informal. Namun permasalahanya apakah normanorma ketenagakerjaan tersebut  dapat diimplementasikan secara efektif sangat tergantung pada faktor  legal structur,  legal substance, dan  legal culture sebagaimana dikemukakan Lawrence Friedman.
·        Pengawasan Terhadap Pentaatan Peraturan Perundangundangan Ketenagakerjaan
Sebagaimana dikemukakan oleh  Robert  B.Seidman, bahwa dalam melihat bekerjanya hukum memiliki tiga unsur penting, pembentuk hukum atau undang-undang, birokrat atau pelaksana peraturan dan yang dikenai hukum. Demikian juga Lawrence Friedman yang mengidentifikasi, bahwa berlakunya hukum juga dipengaruhi oleh 3 (tigal), yaitu unsur struktur dalam hal ini  legal structure,  legal substance, dan  legal culture. Dengan demikian dalam rangka memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap pekerja anak khususnya, tidak cukup hanya mengandalkan peraturan perundang-undangan yang ada, kecuali pada masyarakat yang sudah mapan, tingkat kesadarah hukumnya sudah tinggi, tanpa pemaksaan pun masyarakat dengan sendirinya akan mentaati hukum. Berbeda halnya dengan masyarakat yang pada umumnya berada di negara-negara berkembang, dimana tatanan sosialnya sangat tidak teratur, tingkat kedudukan sosioekonominya juga tidak merata, serta tingkat pendidikan yang rata-rata rendah berdampak signifikan terhadap kesadaran hukumnya. Masyarakat demikian biasanya akan sulit menerima nilai-nilai dari luar, terlebih 38 yang berbeda dengan nilai yang dianut dan diyakini sebagai keneran selama ini, mereka cenderung menolak dan tidak patuh terhadap nilai-nilai yang dianggapnya baru tersebut.
     Dalam rangka mengefektifkan fungsi pengawasan pentaatan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan untuk mencegah  pekerja anak atau larangan mempekerjakan anak, maka pemerintah harus memaksimalkan badan atau lembaga terkait dengan ketenagakerjaan. Dalam hal ini khususnya Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), yang bidang tugasnya memang mengurusi masalah ketenagakerjaan, sehingga dengan memaksimalkan peran Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), diharapkan setiap adanya dugaan pelanggaran peraturan perundangan ketenagakerjaan dapat dicegah sedini mungkin.Berdasarkan kewajiban pembuatan laporan secara berkala setiap 1 (satu) bulan ini diharapkan dapat diperoleh data mengenai kondisi ketenagakerjaan di perusahaan yang bersangkutan, sehingga atas dasar laporan tersebut apabila ditemukan ketidaksesuaian antara penerapan dengan prinsip-prinsip yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan, maka pemerintah dalam hal ini melalui Dinas Tenaga Kerja dapat melakukan langkah-langkah konkrit terkait dengan pelanggaran peraturan ketenakerjaan oleh perusahaan yang bersangkutan, dengan harapan untuk segera menyesuaikan, sehingga secara dini semua bentuk pelanggaran dapat dicegah.
·        Peningkatan Pengetahuan Ketenagakerjaan
  Selama ini pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan ketenagakerjaan dapatdikatakan sangat rendah, bahkan hampir dapat dikatakan tidak ada, hanyalah kelompok masyarakat menengah ke atas saja yang memahami tentang pengaturan masalahan ketenagakerjaan. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap masalah ketenagakerjaan selama ini disebabkan diantaranya rendahnya kesadaranmasyarakat untuk ingin tahu. Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan tidak hanya semata-mata mengatur hak dan kewajiban antarapengusaha dan pekerja saja, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja. Sebab dalam konsep hubungan industrial tujuan pengaturan ketenagakerjaan juga untuk melindungi tenaga kerja, dan menempatkan posisi pekerja sederajad dengan pegusaha, pekerja merupakan partner pengusaha, tidak akan ada artinya pengusaha tanpa pekerja, dan sebaliknya pekerja tidak akan dapat bekerja tanpa pengusaha. Oleh karena itu keseimbangan hak dan kewajiban antarahak dan kewajiban pengusaha dan pekerja harus benar-benar di dalam keseimbangan yang tidak saling merugikan, tetapi justru saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).Berbagai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan telah dibentuk dan diberlakukan oleh pemerintah, sebagai instrumen perlindunganhukum Jurnal Ilmu Hukum REFLEKSI HUKUM Edisi April 2011 39 terhadap hak pekerja, oleh karena itu masyarakat seharusnya juga memahami terhadap pengaturan ketenagakerjaan tersebut. Untuk itu tentunya upaya peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap masalah-masalah ketenagakerjaan, yang sasaran utamanya untuk meningkatkan pemahaman tenaga kerja, khususnya wanita dan anak perlu ditingkatkan, dengan menggunakan modelmodel diantaranya dengan menggunakan dialog interaktif di media massa, baik media cetak maupun elektronik.  Oleh karena itu peningkatan masyarakat terhadap hukum ketenagakerjaan menjadi penting melalui upaya penyuluhan, seminar, dan lain sebagainya
·        Pengembangan Kelembagaan
Sebagaimana diketahui, bahwa pada saat ini telah banyak peraturan prundang undangan yang  terkait dengan perlindungan ha-hak anak, seperti Undang-Undang Nomor 39 Tahun l999 tentang Hak Asasi, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan juga kelembagaankelembagaan yang medukung upaya perlindungan anak, seperti Komisi Nasionas Anak (Komnas Anak), Komisi Perlindungan Perempuan Dan Anak (KPPA), serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Sebagai implementasi dari Keppres Nomor 59 Tahun 2002 mengenai Perencanaan Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (PBPTA). Lembaga ini secara aktif harus didorong untuk terus melakukan kegiatan sosialisasi PBPTA di Kota Kediri. Hasil  pengembangan kelembagaan dengan segala aktifitasnya diharapkan dapat menghapus setidak-tidaknya mengurangi jumlah pekerja   anak, khususnya di Kota Kediri, paling tidak meskipun anak tersebut harus bekerja, namun setidaknya tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengaktifkan dan mengfektifkan peran lembaga-lembaga pemerhati anak, sebagaimana telah disebutkan di atas dapat dipandang sebagai mekanisme kontrol yang paling baik dalam rangka mencegah pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lembaga-lembaga pemerhati anak ini lebih tepat memfungsikan diri sebagai kontrol sosial atau kontrol masyarakat terhadap kebijakan pemerintah sekaligus pelaksanaan kebijakan pemerimntah baik oleh perusahaan maupun pemerintah sendiri dalam rangka pengawasan dan penegakan pelaksanaan kebijakan tersebut.
·        Pembinaan
Pembinaan  terhadap pengusaha dalam hubungannya dengan masalah ketenagakerjaan, lebih diutamakan dalam kaitannya dengan hak-hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Dengan demikian pengusaha diharapkan mampu memahami peraturan perusahaan dan masalah ketenagakerjaan, sehingga terkait 40dengan pekerja anak ini pengusaha dapat memahami karakterisitk pengaturan pekerja anak, seperti ketentuan larangan mempekerjakan anak, sehingga pengusaha dapat mencegah pekerja anak, dan apabila terpaksa mempekerjakan anak pengusaha dapat mencegah adanya bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak sebagaimana diatur di dalam ketentuan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, serta peratuan perundang-undangan lainnya, yang berhubungan dengan perlindungan anak atau pekerja anak.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

·        Pekerja anak dan mempekerjakan anak tampaknya sulit dihindarkan,
meskipun secara normatif keberadaan pekerja anak tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan Ketenagakerjaan, khususnya UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003. Larangan anak bekerja atau mempekerjakan anak dimaksudkan untuk melindungi anak yang bersangkutan, sebab dikawatirkan anak yang bekerja sering dihadapkan pada resiko bahaya, terutama di tempat kerja. Di samping itu tidak sesuai dengan UUD l945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi  Manusia ,Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, dan Undang-Undang Nomor  23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mengenai faktor penyebab anak bekerja di kota Kediri, berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan, bahwa penyebab paling dominan adalah faktor ekonomi keluarga yangpas-pasan; faktor orang tua yang mengizinkan anak bekerja; faktor budaya yang menganggap bahwa anak yang bekerja dianggap sebagai proses sosialisasi menuju kedewasaan dan wujud darma bakti anak pada
orang tua; faktor kemauan sendiri dengan alasan memenuhi kebutuhan sendiri dan juga sebagai bentuk pelarian; faktor lingkungan sebagai akibat dari pengaruh temanteman sekitarnya; dan faktor keluarga, dalam hal ini ajakan kerabat untuk membantu usaha keluarganya.
·        Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah pekerja anak dapat
dilakukan dengan berbagai cara diantaranya, mengefektifkan peraturan perundang-undangan; pengawasan terhadap pentaatan perturan perundang-undangan; baik yang bersifat preventif maupun represif; peningkatan pengetahuan ketenagakerjaan; pengembangan kelembagaan, dengan memfungsikan secara aktif kelembagaan yang terkait dengan anak; dan pembinaan, kususnya dilakukan terhadap para pengusaha guna mencegah jangan sampai mempekerjakan anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar